Laman

Kamis, 30 Agustus 2018

Sabar

Ketika kita merasa diri sudah banyak ujian, bukan berarti kita berhenti untuk diuji. Allah akan selalu menguji kita, membuat kita merasa bergantung kepada Allah berkali kali sehingga merasakan ketenangan jiwa berkali kali..
Sungguh, kemanapun kamu pergi maka kamu bisa membuktikan bahwa kamu bukan apa - apa tanpa Allah melindungimu, tanpa Allah yang merahmatimu atau tanpa Allah yang memudahkan semua urusanmu. Kamu bukan siapa - siapa..
Tatkala kamu merasa lelah dan tak tau harus bagaiman dengan smua ujian yang terasa menghimpit, mungkin disitu Allah sedang memanggilmu untuk mendekat kepadaNya. Allah menunggumu dengan segala keluh kesah yang ingin kamu sampaikan. Sungguh terkadang, kenapa ujian itu terasa berat dan menghimpit karena Allah tau mungkin dengan cara itu kita bisa lebih dekat dengan Allah.

Ya Allah...
Apa yang terjadi jika aku jatuh cinta kepada seorang hamba yang tiada daya upaya tanpa seizinmu.
Stelah bertahun - tahun merasakan sepinya hati, ku rasa aku tak mungkin merasakan perasaan ini lagi. Dulu pun jika ku yakin itu jatuh cinta, rasanya aku pun tak sempat untuk berinteraksi secara nyata dengan beliau yang menjadi objek jatuh cinta itu. Mungkin aku berhalusinasi jika aku mencintainya, atau hanya sekedar rasa kagum karena ia hadir di saat aku kehilangan seorang yang sangat berharga di dalam hidup. Ia mengkhianati dan pergi begitu saja tanpa penyesalan apalagi kata maaf. Seolah tak berharga..

Ya Rabb..
Aku pun ingin merasakan perasaan tulus itu, perasaan mencintai dan dicintai dengan tulus. Tapi kenapa rasanya sulit sekali, ketika ada rasanya kesempatan entah diri ini yang menutup hati atau hati tersebut yang tak memiliki kesempatan untukku. Diri ini sangat sadar bahwa Allah menginginkan agar menjaga hati ini dengan baik teruntuk seorang terbaik yang sudah Allah persiapkan. Tapi jujur, kadang tia merasa butuh banget sosok "pengganti ayah" di kala diri ini menghadapi sesuatu yang tak bisa dihadapi sendiri. Tapi skali lagi, sesedih-sedihnya diri ini karena masih sendiri, cuma bisa bergumam bahwa Allah memperlakukan tia seperti ini karena peduli terhadap diri ini, Allah ingin menjaga hati ini teruntuk seorang yang benar - benar Allah rasa cocok untuk menghadapiku.

Beberapa kali kesempatan untuk mencintai iu hadir, tapi terlepas begitu saja karena ketakutan atau trauma akan masa lalu yang masih menghantui. Sungguh, aku sudah memaafkan mereka yang membuat masa lalu itu terdengar menyakitkan ketika diceritakan kembali. Tapi diri ini berharap semoga Allah menjauhkan diri ini dari sifat-sifat insan yang pernah membuat diri ini sangat terpuruk untuk beberapa waktu. Bukan demi masa lalu, tapi demi masa depan.. Sungguh yaa Rabb, aku ingin bahagia. Sekiranya jalan yang ditempuh sekarang adalah jalan untuk menuju hari itu, ku harap Allah senantiasa merahmati dan menjaga dengan baik hati ini..

Tadi pagi dapet undangan walimah lagi dari temen seangkatan kuliah, rasanya bikin suasana hati makin kelabu di Jum'at ini. Ketika teman tia memulai untuk mencintai hal yang pasti, tapi diri sendiri masih sibuk dengan perasaan jatuh cinta yang mungkin beberapa saat lagi akan selesai karena kehilangan alasan untuk tumbuh. Ya Rabb, sedih banget pagi ini rasanya...

Apa diri ini yang mempersulit semua proses untuk menghalalkan cinta itu?
Apa diri ini terlalu pemilih teruntuk seorang yang berusaha menghalalkan cinta itu?

Hm.. Berbalik ke beberapa waktu yang lalu. Ketika diri ini memilih mundur dari beberapata'ruf yang diajukan bukan karena ingin mempersulit. Hanya saja saat itu belum menemukan alasan untuk bertahan. Ya Allah.. Kok sedih lagi ya.. Hiks

Selasa, 14 Agustus 2018

Seketika semuanya berubah sejak hari itu...
Entah harus mengutuk tapi hati menolak.
Aku tak ingin jadi seperti dia.

Lantas, apa yang harus ku lakukan?

Jam itu masih memutar detik yang sama, langit masih biru dan berarak pelan, dan dunia masih berputar seperti biasa silih berganti siang dan malam. Seolah tak terjadi apa - apa.. Padahal hari itu aku merasakan duniaku kembali direbut, skalipun pernah terlintas sekedar gumaman dan mulai bersiap akan hari itu. Tapi tidak pernah menyangka bahwa hal tersebut akan benar terjadi. Sangking karena sudah terlalu sering disakiti, sedikit banyak aku pun mulai terbiasa diperlakukan seperti itu. Bahkan di kala sedih itu, aku masih bisa bersyukur.. Akhirnya Allah hentikan juga rasa sakit ini. Keraguan selama ini pun terjawab, jawabannya adalah melepaskan...

Ku kira semua akan memburuk sejak hari itu, karena memang kenapa reaksi hati itu yang seolah baik-baik saja. Entah karena hati ini udah bersiap untuk datangnya hari ini. Ternyata sejak hari itu aku tidak baik-baik saja, hati ini bener-bener takut terluka dan sulit percaya ketika ada yang mencoba untuk mendekati...

Semua usaha sudah dilakukan, tapi hati masih berkata tidak. Entah ketakutan apa yang tersimpan, ia begitu takut untuk terbuka lagi. Sudah ku lakukan, memberi kesempatan teruntuk seorang yang baik. Tetapi selalu ada hal yang membuat hati ini mundur dan menolak atau tertolak. Entah butuh waktu berapa lama lagi untuk menyembuhkan diri, hati ini benar - benar kehilangan kepercayaan diri untuk percaya. Ya Allah... Apa yang harus dilakukan?

Rasanya benar - benar indah melihat orang lain punya keluarga sederhana dengan cara termudah, tapi kenapa justru terlalu sulit bagi diri sendiri. Sebenernya ga pernah ada niatan untuk mempersulit, tapi ketika kita memiliki ketakutan terhadap karakter seseorang maka saya ga bisa menerima hal tersebut. Karena saya benar-benar ga ingin kembali ke masa - masa dimana menjalani hari aja terasa berat. Cukuplah masa muda yang berat, hati kecil itu berharap di masa - masa dewasa ini justru seenggaknya partner yang dipilih nanti mampu membuat hati ini terasa tidak sendirian menghadapi semua ujian Allah..

Ya Rabb...
Semoga tahun ini, Allah izinkan diri ini untuk ga sendiri lagi.
Aamiin.