Jangan berharap pada manusia,
kita akan kecewa karena manusia slalu berubah,
biarkan smua mengalir sperti air..
Tak ada ruginya memaafkan,
skalipun menelannya sangat pahit dan butuh waktu lama,
stidaknya kamu mencoba untuk mengikhlaskannya,
itu lebih baik daripada menyimpan dendam..
Bukankah Ayah melarang dendam?
Bukankah Ibu melarang membalas perbuatan jahat dengan kejahatan?
Bukankah memaafkan hatimu jauh lebih tenang?
Bukankah tersenyum lebih mudah daripada menyimpan amarah?
Jangan, jangan kau sia-siakan dirimu tuk satu hal yang tak berguna,
amarah itu hanya boleh ada sesaat,
jangan biarkan ia merajai hatimu,
jangan biarkan ia memiliki ragamu,
jangan biarkan ia terlena nafsu mu hanya karena terluka..
Allah Maha Melihat,
Allah Maha Mendengar,
dan Allah Maha Adil..
Allah tak akan menyia-nyiakan janji pada hamba yang bertaqwa,
jemputlah janji Allah dengan sabar menunggu di tempat itu,
walau pedih, berpeluh bahkan berdarah..
Perjuangan itu hanya akan berakhir ketika dirimu beristirahat di barzakh..
Perjuangan itu hanya akan kamu nikmati ketika dirimu di Jannah-Nya..
Bukankah itu yang dilakukan para syuhada'-syuhada' itu menjemput cinta-Nya?
Apa yang kau ragukan?
Apa yang kau takutkan?
Allah menyaksikan semuanya..
Air mata, peluh, dan darah itu saksi jihadmu melawan keganasan dunia,
yang menggerogotimu dan coba goyahkan imanmu..
Ingat diri,
Janji Allah itu PASTI.
Hanya seorang muslimah biasa yang menyukai dunia mengajar matematika dan berharap Alah selalu memberkahi langkahnya..
Jumat, 07 Desember 2012
Rabu, 02 Mei 2012
Ketika Akhwat Jatuh Cinta
Akhwat Jatuh Cinta??
Tak ada yang aneh, mereka juga adalah manusia...
Bukankah cinta adalah fitrah manusia???
Tak pantaskah akhwat jatuh cinta???
Mereka juga punya hati dan rasa...
Tapi tahukah kalian betapa berbedanya mereka saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya???
Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu di wajah, tak ada buncah suka di dada...
Namun sebaliknya...
Ketika Akhwat Jatuh Cinta...
Yang mereka rasakan adalah penyesalan yang amat sangat, atas sebuah hijab yang tersingkap...
Ketika lelaki yang tak halal baginya, bergelayut dalam alam fikirannya,
yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar akan cinta yang tak suci lagi...
Ketika rasa rindu mulai merekah di hatinya,
yang mereka rasakan adalah kesedihan yang tak terperih akan sebuarh rasa yang tak semestinya…
Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu…
Yang ada adalah malam-malam yang dipenuhi air mata penyesalan atas cinta-Nya yang ternodai…
Yang ada adalah kegelisahan, karena rasa yang salah arah…
Yang ada adalah penderitaan akan hati yang mulai sakit…
Ketika Akhwat Jatuh Cinta…
Bukan harapan untuk bertemu yang mereka nantikan,
tapi yang ada adalah rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut…
Tak ada kata-kata cinta dan rayuan…
Yang ada adalah kekhawatiran yang amat sangat,
akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak akan pernah halal baginya…
Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah,
kegelisahan di hatinya yang tak mampu lagi memberikan ketenangan di wajahnya yang dulu teduh…
Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu bagaimanapun caranya…
Bahkan kendati dia harus menghilang, maka itu pun akan mereka lakukan...
Alangkah kasihannya jika akhwat jatuh cinta…
Karena yang ada adalah penderitaan…
Tapi ukhti…
Bersabarlah…
Jadikan ini ujian dari Rabbmu…
Matikan rasa itu secepatnya…
Pasang tembok pembatas antara kau dan dia…
Pasang duri dalam hatimu, agar rasa itu tak tumbuh bersemai…
Cuci dengan air mata penyesalan akan hijab yang sempat tersingkap...
Putar balik kemudi hatimu, agar rasa itu tetap terarah hanya padaNya…
Pupuskan rasa rindu padanya dan kembalikan dalam hatimu rasa rindu akan cinta Rabbmu…
Ukhti…
Jangan khawatir kau akan kehilangan cintanya…
Karena bila memang kalian ditakdirkan bersama,
maka tak akan ada yang dapat mencegah kalian bersatu…
Tapi ketahuilah, bagaimana pun usaha kalian untuk bersatu,
jika Allah tak menghendakinya, maka tak akan pernah kalian bersatu…
Ukhti…
Bersabarlah…
Biarkan Allah yang mengaturnya...
Maka yakinlah...
Semuanya akan baik-baik saja…
Semua Akan Indah Pada Waktunya…
buat ukhti fillah, doa manis ini pedoman kalian;
Ya Allah…
kurniakanlah kami pasangan yang soleh…
yang menjaga dirinya…
yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal baginya…
yang sentiasa memperbaiki dirinya…
yang sentiasa berusaha mengikuti sunnah Rasulullah…
yang baik akhlaknya…
yang menerima kami apa adanya…
yang akan membawa kami menuju Jannah Mu Ya Rabb…
kabulkan ya Allah…
kerana hati kami teramat lemah…
Ya Allah,
kami mohon ampun
atas dosa selama ini
dosa-dosa kami..
andai tak menjalankan perintahMu
andai tak pedulikan NamaMu
andai tenggelam melupakan diriMu
oh Allah,
sempatkanlah kami untuk bertaubat
untuk hidup di jalanMu
untuk penuhi kewajibanku
sebelum tutup usia ini..
sebelum kami kembali kepadaMu..
amiiin ya rabb...
By: Khadijah Al-Kubra, Enterpreneur, dan Istri Solehah
Tak ada yang aneh, mereka juga adalah manusia...
Bukankah cinta adalah fitrah manusia???
Tak pantaskah akhwat jatuh cinta???
Mereka juga punya hati dan rasa...
Tapi tahukah kalian betapa berbedanya mereka saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya???
Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu di wajah, tak ada buncah suka di dada...
Namun sebaliknya...
Ketika Akhwat Jatuh Cinta...
Yang mereka rasakan adalah penyesalan yang amat sangat, atas sebuah hijab yang tersingkap...
Ketika lelaki yang tak halal baginya, bergelayut dalam alam fikirannya,
yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar akan cinta yang tak suci lagi...
Ketika rasa rindu mulai merekah di hatinya,
yang mereka rasakan adalah kesedihan yang tak terperih akan sebuarh rasa yang tak semestinya…
Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu…
Yang ada adalah malam-malam yang dipenuhi air mata penyesalan atas cinta-Nya yang ternodai…
Yang ada adalah kegelisahan, karena rasa yang salah arah…
Yang ada adalah penderitaan akan hati yang mulai sakit…
Ketika Akhwat Jatuh Cinta…
Bukan harapan untuk bertemu yang mereka nantikan,
tapi yang ada adalah rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut…
Tak ada kata-kata cinta dan rayuan…
Yang ada adalah kekhawatiran yang amat sangat,
akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak akan pernah halal baginya…
Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah,
kegelisahan di hatinya yang tak mampu lagi memberikan ketenangan di wajahnya yang dulu teduh…
Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu bagaimanapun caranya…
Bahkan kendati dia harus menghilang, maka itu pun akan mereka lakukan...
Alangkah kasihannya jika akhwat jatuh cinta…
Karena yang ada adalah penderitaan…
Tapi ukhti…
Bersabarlah…
Jadikan ini ujian dari Rabbmu…
Matikan rasa itu secepatnya…
Pasang tembok pembatas antara kau dan dia…
Pasang duri dalam hatimu, agar rasa itu tak tumbuh bersemai…
Cuci dengan air mata penyesalan akan hijab yang sempat tersingkap...
Putar balik kemudi hatimu, agar rasa itu tetap terarah hanya padaNya…
Pupuskan rasa rindu padanya dan kembalikan dalam hatimu rasa rindu akan cinta Rabbmu…
Ukhti…
Jangan khawatir kau akan kehilangan cintanya…
Karena bila memang kalian ditakdirkan bersama,
maka tak akan ada yang dapat mencegah kalian bersatu…
Tapi ketahuilah, bagaimana pun usaha kalian untuk bersatu,
jika Allah tak menghendakinya, maka tak akan pernah kalian bersatu…
Ukhti…
Bersabarlah…
Biarkan Allah yang mengaturnya...
Maka yakinlah...
Semuanya akan baik-baik saja…
Semua Akan Indah Pada Waktunya…
buat ukhti fillah, doa manis ini pedoman kalian;
Ya Allah…
kurniakanlah kami pasangan yang soleh…
yang menjaga dirinya…
yang menjaga hatinya hanya untuk yang halal baginya…
yang sentiasa memperbaiki dirinya…
yang sentiasa berusaha mengikuti sunnah Rasulullah…
yang baik akhlaknya…
yang menerima kami apa adanya…
yang akan membawa kami menuju Jannah Mu Ya Rabb…
kabulkan ya Allah…
kerana hati kami teramat lemah…
Ya Allah,
kami mohon ampun
atas dosa selama ini
dosa-dosa kami..
andai tak menjalankan perintahMu
andai tak pedulikan NamaMu
andai tenggelam melupakan diriMu
oh Allah,
sempatkanlah kami untuk bertaubat
untuk hidup di jalanMu
untuk penuhi kewajibanku
sebelum tutup usia ini..
sebelum kami kembali kepadaMu..
amiiin ya rabb...
By: Khadijah Al-Kubra, Enterpreneur, dan Istri Solehah
IKHLAS
Seiring dengan perjalanan waktu yang berliku,
ku rasa waktu begitu menghimpitku,
menekan, menerjang tanpa ampun, bahkan menghempaskanku...
pada rasa yang terkadang sulit untuk ku definisikan sendiri...
Bersama bayang,
ku coba tuk tetap tersenyum,
menyimpan dan menyimpulkan sendiri semua rasa yang ku punya,
ada kalanya,
Rasa itu cukup hati ini yang memahami,
Jika sekiranya tak cukup mengganti,
Slalu ada waktu, tempat, dan ketersediaan yang ALLAH berikan untuk menangkapku...
Biarkan ALLAH...
Yang menyejukkan di kala hati ini panas karna amarah...
Sehingga diri ini bisa tetap tenang di kala ombak memecah karang...
Biarkan ALLAH...
Yang menguatkan langkahku di kala kaki ini tak sanggup lagi menopang tubuh tuk berjalan...
Sehingga ku tetap terlihat kuat walau langkah ini sudah terlalu goyah tuk berjalan...
Biarkan ALLAH...
Yang mendengarkan segala keluh kesah maupun suka duka ku,
ketika semua terkadang tak punya waktu tuk ku berbagi walau seraya mendengar suka ku,
sehingga hati ini selalu ikhlas...
sehingga hati ini selalu tidak sendiri...
sehingga air mata dan tawa ini selalu punya teman tuk berbagi,
walau hanya di sepertiga malam ku bertanya dan bercerita,
Itu sudah cukup bagiku...
Allah yang menguatkan,
Allah yang menyejukkan,
Allah yang selalu memelukku seraya tak pernah lelah mendengar keluh kesahku walau hanya keluh kesah tak berharga ketika ku sakit karna mengharapkan jiwa yang tidak ada...
Laa tahinuu wa laa tahzanu...
Innallaha ma ana...
Bengkulu, 25 April 2012
Langit Biru
Buat Para Akhwat...^^
Jilbabnya lebar dan tertutup rapi
Senyumnya manis merangsang hati
Kalau jalan hanya bumi yang diliati
Kenapa? Uangnya jatuh ya ukhti?
Eh, emang dasar gak ngerti!
Mereka gitu karena jaga hati!
Ukhti oh ukhti
Penginnya selalu berbuat lebih
Kadang rapat gak kenal hari
Pulang malampun tak peduli
Emang dasar si ukhti
Gak mau kalah buat organisasi
Hebat ukhti!!
Ukhti cantik ukhti soleha
Buat khalwat udah gak selera
Tapi jangan pelihara sinetron di otak ya!
Nanti susah ngitung matematika
Dapet rendah baru kerasa!
Jangan suka ngayal makanya!
Ukhti oh ukhti
Betapa banyak yang menyakiti
Apalagi dari kalangan lelaki
Banyak yang janji mengkhitbahi
Eh, tamat kuliah gak datang-datang lagi!
Jodohmu udah ada yang ngatur ukhti
Jangan takut gak kebagian ikhwan sejati
Ukh, gaya bicaramu begitu indah
Sungguh lembut dan terarah
Buat dakwah gak kenal lelah
Tapi ingat, tetap harus jaga izzah!
Ukh, anti memang wanita berkelas
Walau kadang, ruang gerak agak terbatas
Tak boleh out bond yang berat nan keras
Biar malaria gak kambuh dan bikin lemas
Mau flying fox gak bebas
Ketawa ngakak dibilang gak waras
Mempertahankan argument dikatain ngeras
Eh, dibilang gendut malah cemas!
Sabar ukh, ikhlas… ikhlas…
Ukhti saudara seiman
Beli pulsa buat internetan
Kadang kala pake hot spot gratisan
Gabung di FB dan FS buat nambah teman
Dakwah dijadikan alasan
Kok foto anti dipajangkan
Gak takut ada yang jelalatan?
Ukhti.. ukhti.. tak usah cari perhatian!
Apalagi dengan cara kek gituan!
Ahk, malu-maluin teman!
Wahai akhwat sejati
Wanita kepunyaan Sang Pemilik Hati
Mari kita belajar untuk jadi lebih baik lagi
Kita kejar Jannah yang hakiki
Jangan mau berbelok ke dunia fana ini
Mari belajar pada shabiyah yang suci
Tetaplah istiqomah dengan tuntunan Ilahi!
^keep hamasah ukhti!!
Senyumnya manis merangsang hati
Kalau jalan hanya bumi yang diliati
Kenapa? Uangnya jatuh ya ukhti?
Eh, emang dasar gak ngerti!
Mereka gitu karena jaga hati!
Ukhti oh ukhti
Penginnya selalu berbuat lebih
Kadang rapat gak kenal hari
Pulang malampun tak peduli
Emang dasar si ukhti
Gak mau kalah buat organisasi
Hebat ukhti!!
Ukhti cantik ukhti soleha
Buat khalwat udah gak selera
Tapi jangan pelihara sinetron di otak ya!
Nanti susah ngitung matematika
Dapet rendah baru kerasa!
Jangan suka ngayal makanya!
Ukhti oh ukhti
Betapa banyak yang menyakiti
Apalagi dari kalangan lelaki
Banyak yang janji mengkhitbahi
Eh, tamat kuliah gak datang-datang lagi!
Jodohmu udah ada yang ngatur ukhti
Jangan takut gak kebagian ikhwan sejati
Ukh, gaya bicaramu begitu indah
Sungguh lembut dan terarah
Buat dakwah gak kenal lelah
Tapi ingat, tetap harus jaga izzah!
Ukh, anti memang wanita berkelas
Walau kadang, ruang gerak agak terbatas
Tak boleh out bond yang berat nan keras
Biar malaria gak kambuh dan bikin lemas
Mau flying fox gak bebas
Ketawa ngakak dibilang gak waras
Mempertahankan argument dikatain ngeras
Eh, dibilang gendut malah cemas!
Sabar ukh, ikhlas… ikhlas…
Ukhti saudara seiman
Beli pulsa buat internetan
Kadang kala pake hot spot gratisan
Gabung di FB dan FS buat nambah teman
Dakwah dijadikan alasan
Kok foto anti dipajangkan
Gak takut ada yang jelalatan?
Ukhti.. ukhti.. tak usah cari perhatian!
Apalagi dengan cara kek gituan!
Ahk, malu-maluin teman!
Wahai akhwat sejati
Wanita kepunyaan Sang Pemilik Hati
Mari kita belajar untuk jadi lebih baik lagi
Kita kejar Jannah yang hakiki
Jangan mau berbelok ke dunia fana ini
Mari belajar pada shabiyah yang suci
Tetaplah istiqomah dengan tuntunan Ilahi!
^keep hamasah ukhti!!
Label:
Taujih Ruhiyah....
Lokasi:
Bengkulu, Indonesia
Selasa, 01 Mei 2012
Senandung di Kala Hujan
“Kalo Ayah sampai bikin Bunda sakit Nisa gak akan maafin Ayah. Biarlah Nisa sakit, tapi jangan Bunda. Nisa mohon ya Rabbi…”
Dahulu, keluargaku adalah surgaku. Aku sangat dekat dengan Ayahku. Kemanapun beliau bepergian ke luar kota atau hanya sekedar sekitar rumah, beliau pasti mengajakku. Walau ia mendidikku dengan keras, tapi ia sangat memikirkan ku dan mendidikku agar tidak menjadi orang yang cengeng dan penakut. Tetapi, menginjak usia remaja aku mengalami perubahan drastis karena mulai mengenakan kerudung dan mulai belajar berpakaian atau berperilaku sebagai seorang muslimah walau itu belum menyeluruh tetapi setidaknya aku jauh lebih dari kemarin. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh keharmonisan keluargaku yang mulai terkuak sehingga aku menjadi anak yang pemurung dan sensitif. Aku membenci hari ulang tahunku. Karena sudah tiga kali dalam ulang tahun ku tidak melukiskan suatu hal yang patut untuk dirayakan. Aku selalu menangis. Ulang tahunku yang ke enam belas, Ayah dan Ibu bertengkar hebat yang berujung Ayah akan pergi meninggalkan kami karena alasan Ayah tidak menerima alasanku yang tidak membalas pesan Ayah karena pulsa habis, ulang tahun ke tujuh belas yang kata orang merupakan ulang tahun yang paling berkesan.. Sangat berkesan. Karena pada hari itu, ku terima “hadiah” dari Ayah di depan sepupuku. Hadiah itu berupa kata-kata kasar Ayah. Aku ingin sehari saja yakni pada hari ulang tahun ku dilahirkan ku tidak mendengar kata-kata kasar Ayah. Tapi, kenyataan berkata lain. Karena tidak sanggup mendengar lebih jauh lagi, maka akhirnya ku menjawab semua tuduhan Ayah sambil terisak dengan tubuh gemetar. Sungguh, aku tidak sanggup mendengar lebih jauh Ayah memaki ku di hari ulang tahunku. Ibu hanya bisa menahan tangis seraya memelukku. Keesokan harinya, aku terbaring karena demam sedangkan sepupuku tidak berani lagi datang ke rumahku. Walau kami lemah terhadap tekanan ini, tapi Ibu selalu mengajarkan kami untuk kuat, sabar dan bertahan.
“Kamu tu jaga anak yang benar. Jangan dimanja terus. Kapan ia akan mandiri? Apa bisa ia selamanya bergantung pada kamu?!!” bentak ayah.
“Siapa yang memanjakan anak? Ibu tak pernah memanjakannya…” Jawab Ibu
“Buktinya, disuruh bersih-bersih rumah aja malas. Apa mungkin bagimu untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah ini sendiri? Kamu mau hancurkan rumahku ini?? Apa gunanya ANAK?!!” Balas Ayah.
“Ayah, Nisa kan udah kelas tiga SMA… Sebentar lagi dia akan Ujian Nasional…Ayah pasti mengerbetapa sulitnya ujian tersebut…Ayah juga pahamkan Nisa itu lemah. Tidak bisa capek…Biarlah tidak apa-apa…Yang penting Nisa lulus dan nggak terganggu belajarnya…” Jawab Ibu tulus.
“Kamu ini selalu pandai membela anak. Masa membersihkan rumah,sakit??Aku tidak setuju ia terus dimanja. NISA!! NISA!! KELUAR KAMU,,ANAK PEMALAS!!”
“I..Iya..Ayah..Ada apa?” Seraya memegang dada yang terasa begitu sakit dan sesak.
“BERESKAN HALAMAN DEPAN!! KAMU TAHU SEBERAPA MALUNYA SAYA JIKA RUMAH INI BERANTAKAN PADAHAL SAYA PUNYA ANAK PEREMPUAN?!!”
“I..Iya Yah..Nisa bereskan…”
“DASAR ANAK PEMALAS!! HANYA PAHAM TIDUR, TIDUR DAN TIDUR!!”
Tak ada jawaban untuk kalimat terakhir Ayah. Sakit dan sesak. Dua hal yang selalu ku rasakan ketika mendengar kedua orangtuaku bercekcok ria kemudian menjadikan ku sebagai imbasan. Marah dan sakit hati, dua kata yang melekat dihati akan perlakuan Ayah. Tetapi, Aku menyayanginya, amat menyayanginya…
Ibu selalu mengajarkan kami untuk selalu berpikiran positif terhadap Ayah ataupun kepada orang yang menyakiti kita, selain itu maafkanlah ia apabila menyakiti hatimu baik itu berupa kata-kata atau perilakunya. Jika dirimu sakit, jatuh, senang atau bahagia ceritakan dan gantungkan semuanya pada Sang Khaliq maka kamu tak akan menyesal. Semua cobaan yang menimpa diri kita, cukup kita dan Allah SWT saja yang tahu. Ibuku memang luar biasa. Alhamdulillah, kami bisa menjalani hari-hari yang penuh warna ini dengan senyum yang senantiasa berganti tangisan ketika sampai di rumah…
***
Terkadang aku bingung tuk bersikap bagaimana dan apa yang akan ku lakukan. Ketika anak seumuranku sangat senang pulang ke rumah ketika bel pulang berbunyi, aku malah sedih dan ketakutan. Apakah aku akan menangis lagi? Apakah kan ku saksikan Ibu menangis lagi? Apakah Ayah akan menghina atau mengusirku lagi? Berbagai prasangka buruk ku bermain dalam angan-angan yang tak menentu.
“Astaghfirullah… Nisa tak boleh begini. Nisa pasti kuat. Nisa pasti bisa. Ayah seperti itu pasti karena saying sama NIsa. Bukankah Ayah sangat mirip dengan Nisa? Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan…InsyaAllah semua akan baik-baik saja.” Gumamku. Jantungku berdetak kencang.
“Asslamu’alaikum. Nisa pulang…”
“Wa’alaikum salam, ganti baju kamu cepat dan tolong Ibumu masak.” Sambut Ayah.
“Iya, Ayah.”
Sesaat kemudian aku sudah berganti pakaian dan membantu Ibu di belakang. Sejak tadi entah kenapa badan ini sangat berat dan pusing sekali kepala ini. Tapi, jika ku katakana kepada Ayah akan kondisiku Ayah akan bertambah marah. Ayah sangat temperamental. Cuma sebentar, ku yakin tak akan berat.
“Nisa kenapa Nak? Kalo pusing istirahat aja. Biar Ibu sama Nia yang masak.” Selidik Ibu seraya memeriksa suhu di keningku.
“Iya Bu. Nisa pusing. Maafkan Nisa ya Bu nggak bisa bantu.” Jawabku singkat.
“Istirahat aja NIsa, Ibu nggak apa-apa. Nisa bentar lagi kan ujian. Jadi harus jaga kondisi. Makanya, belajar jangan terlalu diforsir. Nia, besok kalo kamu masuk SMA contoh kakakmu, masuk kelas unggul. Ya nak? Nah sekarang….”
“Bu, tolong buatkan kopi. Jangan suruh Nisa yang bikin. Nggak enak.” Perintah ayah yang memotong ucapan Ibu pada Nia. Walau di wajahnya ku lihat letih. Tapi, itulah Ibuku, selalu tegar tanpa mengeluh melayani Ayah dengan setia dan selalu menyayangi Ayah. Aku ingin setegar Ibu dan aku tak akan mengecewakannya.
“Kenapa kamu pergi? Hei!!” Tanya Ayah.
“Nisa pusing Yah.” Jawabku
“Alasan. Bilang aja kamu malas.”
Diam. Tahan. Akhirnya aku sampai di kamar. Ku lepaskan semua emosiku dalam tangisku. Aku lupa kapan saat ku berhenti menangis saat itu, yang ku ingat kepala ku sakit dan dadaku sesak. Itulah yang membuatku terlelap hingga keesokan harinya ku sadri bahwa aku terkena gejala tipus.
Bersambung....
Dahulu, keluargaku adalah surgaku. Aku sangat dekat dengan Ayahku. Kemanapun beliau bepergian ke luar kota atau hanya sekedar sekitar rumah, beliau pasti mengajakku. Walau ia mendidikku dengan keras, tapi ia sangat memikirkan ku dan mendidikku agar tidak menjadi orang yang cengeng dan penakut. Tetapi, menginjak usia remaja aku mengalami perubahan drastis karena mulai mengenakan kerudung dan mulai belajar berpakaian atau berperilaku sebagai seorang muslimah walau itu belum menyeluruh tetapi setidaknya aku jauh lebih dari kemarin. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh keharmonisan keluargaku yang mulai terkuak sehingga aku menjadi anak yang pemurung dan sensitif. Aku membenci hari ulang tahunku. Karena sudah tiga kali dalam ulang tahun ku tidak melukiskan suatu hal yang patut untuk dirayakan. Aku selalu menangis. Ulang tahunku yang ke enam belas, Ayah dan Ibu bertengkar hebat yang berujung Ayah akan pergi meninggalkan kami karena alasan Ayah tidak menerima alasanku yang tidak membalas pesan Ayah karena pulsa habis, ulang tahun ke tujuh belas yang kata orang merupakan ulang tahun yang paling berkesan.. Sangat berkesan. Karena pada hari itu, ku terima “hadiah” dari Ayah di depan sepupuku. Hadiah itu berupa kata-kata kasar Ayah. Aku ingin sehari saja yakni pada hari ulang tahun ku dilahirkan ku tidak mendengar kata-kata kasar Ayah. Tapi, kenyataan berkata lain. Karena tidak sanggup mendengar lebih jauh lagi, maka akhirnya ku menjawab semua tuduhan Ayah sambil terisak dengan tubuh gemetar. Sungguh, aku tidak sanggup mendengar lebih jauh Ayah memaki ku di hari ulang tahunku. Ibu hanya bisa menahan tangis seraya memelukku. Keesokan harinya, aku terbaring karena demam sedangkan sepupuku tidak berani lagi datang ke rumahku. Walau kami lemah terhadap tekanan ini, tapi Ibu selalu mengajarkan kami untuk kuat, sabar dan bertahan.
“Kamu tu jaga anak yang benar. Jangan dimanja terus. Kapan ia akan mandiri? Apa bisa ia selamanya bergantung pada kamu?!!” bentak ayah.
“Siapa yang memanjakan anak? Ibu tak pernah memanjakannya…” Jawab Ibu
“Buktinya, disuruh bersih-bersih rumah aja malas. Apa mungkin bagimu untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah ini sendiri? Kamu mau hancurkan rumahku ini?? Apa gunanya ANAK?!!” Balas Ayah.
“Ayah, Nisa kan udah kelas tiga SMA… Sebentar lagi dia akan Ujian Nasional…Ayah pasti mengerbetapa sulitnya ujian tersebut…Ayah juga pahamkan Nisa itu lemah. Tidak bisa capek…Biarlah tidak apa-apa…Yang penting Nisa lulus dan nggak terganggu belajarnya…” Jawab Ibu tulus.
“Kamu ini selalu pandai membela anak. Masa membersihkan rumah,sakit??Aku tidak setuju ia terus dimanja. NISA!! NISA!! KELUAR KAMU,,ANAK PEMALAS!!”
“I..Iya..Ayah..Ada apa?” Seraya memegang dada yang terasa begitu sakit dan sesak.
“BERESKAN HALAMAN DEPAN!! KAMU TAHU SEBERAPA MALUNYA SAYA JIKA RUMAH INI BERANTAKAN PADAHAL SAYA PUNYA ANAK PEREMPUAN?!!”
“I..Iya Yah..Nisa bereskan…”
“DASAR ANAK PEMALAS!! HANYA PAHAM TIDUR, TIDUR DAN TIDUR!!”
Tak ada jawaban untuk kalimat terakhir Ayah. Sakit dan sesak. Dua hal yang selalu ku rasakan ketika mendengar kedua orangtuaku bercekcok ria kemudian menjadikan ku sebagai imbasan. Marah dan sakit hati, dua kata yang melekat dihati akan perlakuan Ayah. Tetapi, Aku menyayanginya, amat menyayanginya…
Ibu selalu mengajarkan kami untuk selalu berpikiran positif terhadap Ayah ataupun kepada orang yang menyakiti kita, selain itu maafkanlah ia apabila menyakiti hatimu baik itu berupa kata-kata atau perilakunya. Jika dirimu sakit, jatuh, senang atau bahagia ceritakan dan gantungkan semuanya pada Sang Khaliq maka kamu tak akan menyesal. Semua cobaan yang menimpa diri kita, cukup kita dan Allah SWT saja yang tahu. Ibuku memang luar biasa. Alhamdulillah, kami bisa menjalani hari-hari yang penuh warna ini dengan senyum yang senantiasa berganti tangisan ketika sampai di rumah…
***
Terkadang aku bingung tuk bersikap bagaimana dan apa yang akan ku lakukan. Ketika anak seumuranku sangat senang pulang ke rumah ketika bel pulang berbunyi, aku malah sedih dan ketakutan. Apakah aku akan menangis lagi? Apakah kan ku saksikan Ibu menangis lagi? Apakah Ayah akan menghina atau mengusirku lagi? Berbagai prasangka buruk ku bermain dalam angan-angan yang tak menentu.
“Astaghfirullah… Nisa tak boleh begini. Nisa pasti kuat. Nisa pasti bisa. Ayah seperti itu pasti karena saying sama NIsa. Bukankah Ayah sangat mirip dengan Nisa? Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan…InsyaAllah semua akan baik-baik saja.” Gumamku. Jantungku berdetak kencang.
“Asslamu’alaikum. Nisa pulang…”
“Wa’alaikum salam, ganti baju kamu cepat dan tolong Ibumu masak.” Sambut Ayah.
“Iya, Ayah.”
Sesaat kemudian aku sudah berganti pakaian dan membantu Ibu di belakang. Sejak tadi entah kenapa badan ini sangat berat dan pusing sekali kepala ini. Tapi, jika ku katakana kepada Ayah akan kondisiku Ayah akan bertambah marah. Ayah sangat temperamental. Cuma sebentar, ku yakin tak akan berat.
“Nisa kenapa Nak? Kalo pusing istirahat aja. Biar Ibu sama Nia yang masak.” Selidik Ibu seraya memeriksa suhu di keningku.
“Iya Bu. Nisa pusing. Maafkan Nisa ya Bu nggak bisa bantu.” Jawabku singkat.
“Istirahat aja NIsa, Ibu nggak apa-apa. Nisa bentar lagi kan ujian. Jadi harus jaga kondisi. Makanya, belajar jangan terlalu diforsir. Nia, besok kalo kamu masuk SMA contoh kakakmu, masuk kelas unggul. Ya nak? Nah sekarang….”
“Bu, tolong buatkan kopi. Jangan suruh Nisa yang bikin. Nggak enak.” Perintah ayah yang memotong ucapan Ibu pada Nia. Walau di wajahnya ku lihat letih. Tapi, itulah Ibuku, selalu tegar tanpa mengeluh melayani Ayah dengan setia dan selalu menyayangi Ayah. Aku ingin setegar Ibu dan aku tak akan mengecewakannya.
“Kenapa kamu pergi? Hei!!” Tanya Ayah.
“Nisa pusing Yah.” Jawabku
“Alasan. Bilang aja kamu malas.”
Diam. Tahan. Akhirnya aku sampai di kamar. Ku lepaskan semua emosiku dalam tangisku. Aku lupa kapan saat ku berhenti menangis saat itu, yang ku ingat kepala ku sakit dan dadaku sesak. Itulah yang membuatku terlelap hingga keesokan harinya ku sadri bahwa aku terkena gejala tipus.
Bersambung....
Matahariku
Andai aku punya cara tuk lupa,
ingin rasanya namau pertama ku tuliskan,
tapi hati selalu berkata 'jangan'..
smakin ku coba untuk lupa,
semakin terbayang wajah itu di depan mata seolah nyata...
Mungkin ia tak pernah tau,
Mungkin ia tak pernah menyadari,
Setiap kata yang ia ucapkan terutama tuk menghiburku,
saat ini menjadi duri dalam daging bagiku,
tak pernah ku menyangka,
semuanya kan menjadi seperti ini,
Mungkin ia tak pernah tau,
Mungkin ia tak pernah menyadari,
setiap perhatian yang ia berikan,
menjadikan ia satu yang membuat Ayah cemburu,
tak pernah ku mengira,
bahwa ku akan jatuh cinta...
Sekiranya di lahul mahfuz terukir namaku dan namanya,
ku berharap sekiranya,
ia yang pertama dan terakhir bagiku...
Tapi jikalau tidak,
Janji Allah kan nyata bagi setiap hambaNya...
ingin rasanya namau pertama ku tuliskan,
tapi hati selalu berkata 'jangan'..
smakin ku coba untuk lupa,
semakin terbayang wajah itu di depan mata seolah nyata...
Mungkin ia tak pernah tau,
Mungkin ia tak pernah menyadari,
Setiap kata yang ia ucapkan terutama tuk menghiburku,
saat ini menjadi duri dalam daging bagiku,
tak pernah ku menyangka,
semuanya kan menjadi seperti ini,
Mungkin ia tak pernah tau,
Mungkin ia tak pernah menyadari,
setiap perhatian yang ia berikan,
menjadikan ia satu yang membuat Ayah cemburu,
tak pernah ku mengira,
bahwa ku akan jatuh cinta...
Sekiranya di lahul mahfuz terukir namaku dan namanya,
ku berharap sekiranya,
ia yang pertama dan terakhir bagiku...
Tapi jikalau tidak,
Janji Allah kan nyata bagi setiap hambaNya...
Langganan:
Komentar (Atom)