Laman

Rabu, 31 Oktober 2018

Bahasa Kalbu

Belakangan mulai ragu, apa yang sebenernya harus tia lakukan...
Nggak ada salahnya emang jatuh cinta, tapi perempuan butuh kepastian bukan?

Sejak postingan beberapa waktu lalu yang emang langsung dihapus, nggak tau apa alasannya dia nggak ingin membahasnya. Sama seperti waktu itu. Yah, mungkin tia bukanlah seorang penting yang berhak tau tentang dirinya ya. Tia nggak sepenting itu agar ia bisa berbagi. Kadang mikirin itu aja udah cukup bikin sedih ya.. Kesimpulannya ya tia bukan siapa - siapa.

Sempat berpikir, terus selama ini maksudnya dia apa? Apa tia yang bereaksi atau berprasangka berlebihan terhadap reaksi dia yang bener - bener aneh bagi tia. Apa itu cuma sekedar bahasa tubuh ingin cuma teman? Tia ga bener - bener bisa menebak isi pikiran dia. Super ga jelas..

Kemaren pas tia dicuekin, tia sempat su'uzhon gara2 seseorang yang belakangan iseng. Tapi kayaknya mungkin nggak ya. Karena sikapnya dia belakangan mulai mundur. Mundur dalam artian seolah kembali menarik garis yang ga boleh tia lewati lagi. Tia didiemin. Galau dong. Duh tia bener - bener ga tau harus gimana kemaren. Akhirnya dengan keberanian yang tersisa, nanyain. Di pikiran tia udah macem yang bakalan dia sampein, mulai dari ga usah ikut campur masalah dia atau ga boleh kepo. 

Tia entah kenapa yakin ini bagian dari pengabulan doa Allah yang membantu tia untuk menjaga hati tia. Belum lagi banyak sekali kelemahan dia yang membuat tia bertanya - tanya lagi tentang menganggap dia jodoh yang Allah kirimkan untuk tia. Tia yang selalu memulai untuk menghubungi beliau, tapi sedikit pun dia ga pernah memulai untuk duluan menghubungi tia bahkan sekedar nanyain lagi sibuk atau ga. Sedih rasanya, mungkin tia menyukai orang yang salah lagi?

Bahasa tubuhnya slalu membuat tia merasa bahwa ia mungkin tertarik sama tia, tapi tia ga bener - bener yakin bahwa tia adalah orang yang ia sukai. Apalagi melihat perlakuan dia yang ke tia dingin banget, ga mencerminkan kalau dia adalah orang yang menyukai tia. Emang awal - awal dia bersikap seolah ingin dekat dengan tia, tapi belakangan dia ga begitu lagi. Entah mungkin bertepatan dengan seringnya dicengcengin sama guru yang ga suka tia deket dengan dia. Dia ga pernah membela tia pas tia dipojokkan, padahal secuek2nya tia butuh juga dibela saat itu. 

Tia ga pernah mendeskripsikan bahasa pandangan dia, tia ga ngerti kenapa dia sering curi - curi pandang, tia ga ngerti kenapa dia sering tersenyum klo lagi isengin tia, tia ga ngerti kenapa cuma tia yang ga dia panggil 'mba', tia ga ngerti kenapa dia sibuk isengin tia, tia ga ngerti juga kenapa takdir selalu sering mendampingkan kita untuk hal - hal kecil semisal selera berpakaian yang sama atau Allah pun mengabulkan bahkan untuk doa yang tak sempat tia ucapkan jika berkaitan dengan dia. Beberapa kali ini terjadi. Gimana tia ga salah paham dan perasaan itu tumbuh, terlebih kadang ntah kenapa tia mungkin menyukai dia karna apa adanya dia. Tia hanya mencari sosok sesederhana dia untuk bisa memahami tia, tapi belakangan tia ga begitu yakin dengan pendapat tia. Tia lupa point terpenting yang belum tia pastikan, apa tia satu - satunya perempuan atau tia cuma sekedar pelarian yang ngebantuin tugas - tugas dia atau dia cuma ingin menjadi teman tia?

Tia ingin seperti perempuan lainnya merasakan dicintai dan mencinta, tia pun juga perempuan. Tapi tia sadar, takut Allah marah jika tia salah melangkah jadi bikin Allah cemburu dan marah. Tia pun ga mau sakit lagi sperti yang udah dilakukan dua orang sebelum ini. Tia seolah tak berharga... Apa kali ini tia juga ga akan dianggap? Setelah tia Allah buat deg - deg an untuk hal sederhana semisal bertemu dia, merasa tersipu ketika pandangan bertemu, dan merasa bahagia bahkan cuma sekedar melihat dirinya dari jauh.

Ya Allah, yaa muqollibal quluub..
Tia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menunggu hadirnya, tapi tia ingin bersamanya dalam ikatan yang halal. Ikatan yang Allah dan Rasulullah salallahu 'alaihi wasalam ridhoi. Tia ingin menyegerakan perintah Allah untuk menyempurnakan separuh agama tia. Jika memang dia adalah orang yang Allah dekatkan, dia adalah jodoh yang Allah coba kenalkan, dia yang padanya Allah jatuhkan hati tia, maka permudahkanlah yaa Rabb rasa ini berlabuh dalam ikatan pernikahan. Aamiin.

Mereka bilang agar tia berusaha untuk menyampaikan keinginan tia untuk menikah, tapi yaa Rabb.. Tia bener - bener takut menerima penolakan lagi. Mana tia ketemu beliau terus sampai tahun depan insyaaAllah. Tia ga sanggup menata hati tia dengan cepat klo ditolak lagi yaa Rabb. Sama orang yang pelarian aja, tia butuh waktu menahun untuk sembuh. Ini pun jarang ketemu. Apa jadinya kalo tia ketemu tiap hari. Ga sanggup tia..

Yaa Rabb.. Tuhan satu - satunya yang mengetahui segala isi hati.
Tia deg - deg an hanya terkenang sedikit aja dengan beliau, padahal selama ini tia ga pernah begini mau ke siapapun. Tia merasa malu ketika pandangan bertemu,padahal biasanya mau tatapan sama siapa aja tia ga ada takut - takutnya. Tia merasa bahagia hanya dengan menyadari dia ada di dekat tia atau tia bisa bertemu dengan beliau hari itu.

Inginnya..
Jika memang ga ada masa depan tia bersama beliau, mudah - mudahan Allah segera mengangkat perasaan ini segera agar tia bisa fokus lagi ke kerjaan tia. Tapi jika bener ada nama tia di masa depan dia, semoga Allah menggerakkan hatinya untuk segera melamar tia ke orang tua tia. Semudah Allah menutup jalan orang lain yang bukan jodoh tia, tia berharap semudah itu Allah menggerakkan, menuntunnya dan menguatkan hatinya untuk menikahi tia yaa Rabb.

Tia ga tau lagi harus gimana...
Nulis diary tengah malam berharap Allah memahami dan mengijabahi secepatnya.. Sebelum rasa tia hilang atau hati tia mati rasa lagi. Kemaren ada dapet notif dari seseorang yg tia anggap sebagai stalker. Belum lagi pas di kurung satu ruangan sama mas X waktu itu. Tia sadar tia harus cepat menikah, tapi tia ga ingin terburu -  buru dan salah pilih. Tia tetep ingin Allah pilihkan yang terbaik teruntuk tia yang seperti ini.

Tia takut yaa Rabb..
Sedikit banyak tia pun berharap jika menikah bisa menenangkan perasaan gelisah dan takut tia digangguin ikhwan yaa Rabb..
Sedikit banyak tia berharap tia punya seseorang yang melindungi tia sebagai tangan kanan Allah dan papa, dan ia melakukannnya karna dia mencintai tia karna Allah..

Yaa Muqollibal Quluub..
Semoga Allah memberikan jawaban terbaik dari gundah hati tia, sekiranya takdir yang tia harapkan tak terwujud semoga Allah mendamaikan hati tia dan membuat tia ga putus asa. Tapi jika memang jodoh, semoga Allah segerakan kami untuk menikah yaa Raabb.. Aamiin.

Jika bener jodoh, tia berharap bisa memberitahu dia tentang tulisan ini. Tapi jika bukan, semoga ini bisa jadi pelajaran dan kenangan berharga.

Kamis, 20 September 2018

Take Your Time and Let's not Falling Love

 It seems like I had a nice day not a gloomy day because that smile. 
Though I have may reason to feel sad and easy.

Pagi itu seperti biasa, bangun pagi masih seperti biasa. Tetapi berharap jika kali ini kita tak memakai warna baju yang senada. Takut baper soalnya, karena beberapa waktu apa yang ku pikirkan sama seperti yang ia pikirkan. Entahlah, semakin ku pikirkan kenapa begitu mudah hati ini memahaminya bukan memaklumi seperti yang ku lakukan saat pertama kali mengenal cinta pertama kali. Rasanya lucu, memiliki banyak kesamaan sampai - sampai terkadang mengerti apa yang tak ia katakan.

Pagi itu ketika melewati jalanan di depan Istana Bogor, seketika bayangan akan hadirnya membuatk tersenyum seraya bergumam, "Ya Allah, It would be nice if I met him when I was on this street." Haha, padahal ini cuma permintaan bodoh yang ga mungkin terkabul menurut saya karena rumah dia ujung ke ujung denganku. Tapi sepertinya aku terlalu meremehkan kekuatan doa. Hari itu saya menyadari kehadiran beliau setelah menyalip gojek yang ku naiki.

"Oh Allah, I wish that he know me.."

Cuma bias berharap tapi tidak memaksakan, setelah drama disangka anak SMA disana. Saya pun berjalan seperti biasa wlaupun masih dengan harapan papasan di pos fingerprint. Hehe. Kirain dia udah duluan masuk ke kantor, ternyata belum. Dia melirik ke arah kedatanganku, ku sadari tatapan untuk ku itu berarti dia menyadari kehadiranku. Seketika hati itu berdetak kencang, sekali lagi, "He makes me feel uneasy". Saat itu satu sisi berharap ia segera pergi dari pos fingerprint, tapi satu sisi berharap jika ia tetap disana. Dan yang terkabul adalah, dia tetap disana. Suatu hal yang jarang banget terjadi, kemaren - kemaren rasanya dia seolah ga mau ketemu atau papasan gitu. Karena merasa malu untuk hari ini, jadinya aku cuma melewatinya seperti biasa. Tapi ku akui ada yang sedikit berbeda saat itu, dia tersenyum. Biasanya selalu tanpa ekspresi..

Pas ga lama masuk ruang guru, trus akhirnya dia pun juga masuk. Pas dia buka jaket, jeng jeng

We have some colour of clothes that day..

Makin gugup rasanya, akhirnya cuma duduk di kursi. Akhirnya cuma cuekin doang, wlau saya tau dia udah beberapa kali melirik ke saya.

"Sorry bro, my heart is beating fast, so I ignore you for once.."

Karena pagi itu ga sempat masak nasi, jadinya beli sarapan di kantin. Pagi itu rasanya bener-bener terlalu malu untuk berbicara dengan dia. Akhirnya cuma bias pilih diam. Mungkin dia secara ga langsung ngeh dengan sikapku yang cukup diam hari itu, jadinya pas lagi sarapan tiba-tiba dia berhenti di depan mejaku terpaku pada sesuatu yang di atas meja,

"Makan makan.. Kamu liatin apa? Ini (kertas ulangan harian siswa), ini (novel Sherlock) atau ini (nasi goreng yang jadi sarapanku saat itu)?" Trus dia ngambil novel sambil membaca daftar isi ceritanya.
"Saya udah baca semua cerita ini."
"Wah.. Iya? Keren dong. Keren keren." Saya kaget berkali - kali, kaget krna dia tumben2an ngomong duluan. Kaget karena dia menyukai apa yang saya sukai juga. Haha. Trus dia jalan ke arah mejanya. Saya kira percakapan kita selesai. Taunya ga, dia nunjukkin aplikasi yg dia gunakan untuk baca novel sherlock. Berasa inget waktu kejadian nanya password wifi. Dia terpaku beberapa detik sambal melihat ke arahku baru nanyain password wifi ruang guru apa. Saat itu saya ngerasa malu banget, langsung kabur pura2 nanya guru lain krna ga baik saya lama2 deket dia.

Jika hari selasa itu adalah hari yang paling creepy maka hari esoknya adalah hari paling gloomy. Hari ini saya cukup yakin baju kita beda, karena saya pakai baju hitam. Dia ga punya. Haha. Cuma lucunya kadang pas turun dari masjid pulang dari dhuha, tau2 dia udah di disamping saya. trus pas di ruang guru sbeenrnya saya lagi memperhatikan siswa yang celananya kena dedel guru. Dia melirik ke arah saya, saya tertawa dan dia juga tertawa. Eh tumben.. Sekali lagi tumben melihat senyumnya hari itu padahal untuk hal yang biasanya ga pernah ia lakukan. 

Belakangan ini aku melihat perubahan yang cukup signifikan dari dirinya. Pernah sesekali dia kedengeran nyanyi. Perasaan suasana hatinya lagi baik banget kayaknya. Trus kemaren tiba2 ngajak ngobrol duluan. Tapi sebanyak apapun perubahan dia tetap aja nggak bias mengubah fakta bahwa ga boleh berkeyakinan dia adalah jodoh yang Allah kirimkan kan. Cukup berterima kasih dengan kehadiran dia di sekolah jadi ngerasa agak tenang gitu. Wallahu a'lam selama ini jika ketemu ikhwan manapun yang tia rasa lebih baik dari dia tapi ga pernah ngerasa seperti ini sebelumnya. Dan belum pernah sebelumnya menaruh hati pada seseorang yang usianya lebih muda. Biasanya minimal lebih seumuran. Kemaren aja seumuran aja belum tentu hati itu terbuka, begitupula dengan yang di atas..

Keanehan memang sudah terasa sejak tia bertemu dengan beliau emang di bimbel. Tapi cuma sekedar tau nama itu pun ga sengaja. Trus pas beliau ada musibah beruntun kemaren2, jadinya makin penasaran dengan beliau. Jujur, ga pernah sekalipun terbayang bakalan punya kesempatan untuk dekat beliau. Pas beliau melihat nama beliau di daftar guru baru pun rasanya belum percaya. Karena entah sejak awal terasa ada yang berbeda dengan beliau. Walaupun emang ga tau apa, tapi pas tau tanggal lahirnya sama itu cukup bikin shock. Kalau emang beliau ada jodoh yang sudah Allah takdirkan, semoga Allah dekatkan dengan cara yang baik. Aamiin.

Kamis, 30 Agustus 2018

Sabar

Ketika kita merasa diri sudah banyak ujian, bukan berarti kita berhenti untuk diuji. Allah akan selalu menguji kita, membuat kita merasa bergantung kepada Allah berkali kali sehingga merasakan ketenangan jiwa berkali kali..
Sungguh, kemanapun kamu pergi maka kamu bisa membuktikan bahwa kamu bukan apa - apa tanpa Allah melindungimu, tanpa Allah yang merahmatimu atau tanpa Allah yang memudahkan semua urusanmu. Kamu bukan siapa - siapa..
Tatkala kamu merasa lelah dan tak tau harus bagaiman dengan smua ujian yang terasa menghimpit, mungkin disitu Allah sedang memanggilmu untuk mendekat kepadaNya. Allah menunggumu dengan segala keluh kesah yang ingin kamu sampaikan. Sungguh terkadang, kenapa ujian itu terasa berat dan menghimpit karena Allah tau mungkin dengan cara itu kita bisa lebih dekat dengan Allah.

Ya Allah...
Apa yang terjadi jika aku jatuh cinta kepada seorang hamba yang tiada daya upaya tanpa seizinmu.
Stelah bertahun - tahun merasakan sepinya hati, ku rasa aku tak mungkin merasakan perasaan ini lagi. Dulu pun jika ku yakin itu jatuh cinta, rasanya aku pun tak sempat untuk berinteraksi secara nyata dengan beliau yang menjadi objek jatuh cinta itu. Mungkin aku berhalusinasi jika aku mencintainya, atau hanya sekedar rasa kagum karena ia hadir di saat aku kehilangan seorang yang sangat berharga di dalam hidup. Ia mengkhianati dan pergi begitu saja tanpa penyesalan apalagi kata maaf. Seolah tak berharga..

Ya Rabb..
Aku pun ingin merasakan perasaan tulus itu, perasaan mencintai dan dicintai dengan tulus. Tapi kenapa rasanya sulit sekali, ketika ada rasanya kesempatan entah diri ini yang menutup hati atau hati tersebut yang tak memiliki kesempatan untukku. Diri ini sangat sadar bahwa Allah menginginkan agar menjaga hati ini dengan baik teruntuk seorang terbaik yang sudah Allah persiapkan. Tapi jujur, kadang tia merasa butuh banget sosok "pengganti ayah" di kala diri ini menghadapi sesuatu yang tak bisa dihadapi sendiri. Tapi skali lagi, sesedih-sedihnya diri ini karena masih sendiri, cuma bisa bergumam bahwa Allah memperlakukan tia seperti ini karena peduli terhadap diri ini, Allah ingin menjaga hati ini teruntuk seorang yang benar - benar Allah rasa cocok untuk menghadapiku.

Beberapa kali kesempatan untuk mencintai iu hadir, tapi terlepas begitu saja karena ketakutan atau trauma akan masa lalu yang masih menghantui. Sungguh, aku sudah memaafkan mereka yang membuat masa lalu itu terdengar menyakitkan ketika diceritakan kembali. Tapi diri ini berharap semoga Allah menjauhkan diri ini dari sifat-sifat insan yang pernah membuat diri ini sangat terpuruk untuk beberapa waktu. Bukan demi masa lalu, tapi demi masa depan.. Sungguh yaa Rabb, aku ingin bahagia. Sekiranya jalan yang ditempuh sekarang adalah jalan untuk menuju hari itu, ku harap Allah senantiasa merahmati dan menjaga dengan baik hati ini..

Tadi pagi dapet undangan walimah lagi dari temen seangkatan kuliah, rasanya bikin suasana hati makin kelabu di Jum'at ini. Ketika teman tia memulai untuk mencintai hal yang pasti, tapi diri sendiri masih sibuk dengan perasaan jatuh cinta yang mungkin beberapa saat lagi akan selesai karena kehilangan alasan untuk tumbuh. Ya Rabb, sedih banget pagi ini rasanya...

Apa diri ini yang mempersulit semua proses untuk menghalalkan cinta itu?
Apa diri ini terlalu pemilih teruntuk seorang yang berusaha menghalalkan cinta itu?

Hm.. Berbalik ke beberapa waktu yang lalu. Ketika diri ini memilih mundur dari beberapata'ruf yang diajukan bukan karena ingin mempersulit. Hanya saja saat itu belum menemukan alasan untuk bertahan. Ya Allah.. Kok sedih lagi ya.. Hiks

Selasa, 14 Agustus 2018

Seketika semuanya berubah sejak hari itu...
Entah harus mengutuk tapi hati menolak.
Aku tak ingin jadi seperti dia.

Lantas, apa yang harus ku lakukan?

Jam itu masih memutar detik yang sama, langit masih biru dan berarak pelan, dan dunia masih berputar seperti biasa silih berganti siang dan malam. Seolah tak terjadi apa - apa.. Padahal hari itu aku merasakan duniaku kembali direbut, skalipun pernah terlintas sekedar gumaman dan mulai bersiap akan hari itu. Tapi tidak pernah menyangka bahwa hal tersebut akan benar terjadi. Sangking karena sudah terlalu sering disakiti, sedikit banyak aku pun mulai terbiasa diperlakukan seperti itu. Bahkan di kala sedih itu, aku masih bisa bersyukur.. Akhirnya Allah hentikan juga rasa sakit ini. Keraguan selama ini pun terjawab, jawabannya adalah melepaskan...

Ku kira semua akan memburuk sejak hari itu, karena memang kenapa reaksi hati itu yang seolah baik-baik saja. Entah karena hati ini udah bersiap untuk datangnya hari ini. Ternyata sejak hari itu aku tidak baik-baik saja, hati ini bener-bener takut terluka dan sulit percaya ketika ada yang mencoba untuk mendekati...

Semua usaha sudah dilakukan, tapi hati masih berkata tidak. Entah ketakutan apa yang tersimpan, ia begitu takut untuk terbuka lagi. Sudah ku lakukan, memberi kesempatan teruntuk seorang yang baik. Tetapi selalu ada hal yang membuat hati ini mundur dan menolak atau tertolak. Entah butuh waktu berapa lama lagi untuk menyembuhkan diri, hati ini benar - benar kehilangan kepercayaan diri untuk percaya. Ya Allah... Apa yang harus dilakukan?

Rasanya benar - benar indah melihat orang lain punya keluarga sederhana dengan cara termudah, tapi kenapa justru terlalu sulit bagi diri sendiri. Sebenernya ga pernah ada niatan untuk mempersulit, tapi ketika kita memiliki ketakutan terhadap karakter seseorang maka saya ga bisa menerima hal tersebut. Karena saya benar-benar ga ingin kembali ke masa - masa dimana menjalani hari aja terasa berat. Cukuplah masa muda yang berat, hati kecil itu berharap di masa - masa dewasa ini justru seenggaknya partner yang dipilih nanti mampu membuat hati ini terasa tidak sendirian menghadapi semua ujian Allah..

Ya Rabb...
Semoga tahun ini, Allah izinkan diri ini untuk ga sendiri lagi.
Aamiin.