Laman

Selasa, 01 Mei 2012

Senandung di Kala Hujan

“Kalo Ayah sampai bikin Bunda sakit Nisa gak akan maafin Ayah. Biarlah Nisa sakit, tapi jangan Bunda. Nisa mohon ya Rabbi…”

      Dahulu, keluargaku adalah surgaku. Aku sangat dekat dengan Ayahku. Kemanapun beliau bepergian ke luar kota atau hanya sekedar sekitar rumah, beliau pasti mengajakku. Walau ia mendidikku dengan keras, tapi ia sangat memikirkan ku dan mendidikku agar tidak menjadi orang yang cengeng dan penakut. Tetapi, menginjak usia remaja aku mengalami perubahan drastis karena mulai mengenakan kerudung dan mulai belajar berpakaian atau berperilaku sebagai seorang muslimah walau itu belum menyeluruh tetapi setidaknya aku jauh lebih dari kemarin. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh keharmonisan keluargaku yang mulai terkuak sehingga aku menjadi anak yang pemurung dan sensitif. Aku membenci hari ulang tahunku. Karena sudah tiga kali dalam ulang tahun ku tidak melukiskan suatu hal yang patut untuk dirayakan. Aku selalu menangis. Ulang tahunku yang ke enam belas, Ayah dan Ibu bertengkar hebat yang berujung Ayah akan pergi meninggalkan kami karena alasan Ayah tidak menerima alasanku yang tidak membalas pesan Ayah karena pulsa habis, ulang tahun ke tujuh belas yang kata orang merupakan ulang tahun yang paling berkesan.. Sangat berkesan. Karena pada hari itu, ku terima “hadiah” dari Ayah di depan sepupuku. Hadiah itu berupa kata-kata kasar Ayah. Aku ingin sehari saja yakni pada hari ulang tahun ku dilahirkan ku tidak mendengar kata-kata kasar Ayah. Tapi, kenyataan berkata lain. Karena tidak sanggup mendengar lebih jauh lagi, maka akhirnya ku menjawab semua tuduhan Ayah sambil terisak dengan tubuh gemetar. Sungguh, aku tidak sanggup mendengar lebih jauh Ayah memaki ku di hari ulang tahunku. Ibu hanya bisa menahan tangis seraya memelukku. Keesokan harinya, aku terbaring karena demam sedangkan sepupuku tidak berani lagi datang ke rumahku. Walau kami lemah terhadap tekanan ini, tapi Ibu selalu mengajarkan kami untuk kuat, sabar dan bertahan.
“Kamu tu jaga anak yang benar. Jangan dimanja terus. Kapan ia akan mandiri? Apa bisa ia selamanya bergantung pada kamu?!!” bentak ayah.
      “Siapa yang memanjakan anak? Ibu tak pernah memanjakannya…” Jawab Ibu
“Buktinya, disuruh bersih-bersih rumah aja malas. Apa mungkin bagimu untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah ini sendiri? Kamu mau hancurkan rumahku ini?? Apa gunanya ANAK?!!” Balas Ayah.
“Ayah, Nisa kan udah kelas tiga SMA… Sebentar lagi dia akan Ujian Nasional…Ayah pasti mengerbetapa sulitnya ujian tersebut…Ayah juga pahamkan Nisa itu lemah. Tidak bisa capek…Biarlah tidak apa-apa…Yang penting Nisa lulus dan nggak terganggu belajarnya…” Jawab Ibu tulus.
“Kamu ini selalu pandai membela anak. Masa membersihkan rumah,sakit??Aku tidak setuju ia terus dimanja. NISA!! NISA!! KELUAR KAMU,,ANAK PEMALAS!!”
      “I..Iya..Ayah..Ada apa?” Seraya memegang dada yang terasa begitu sakit dan sesak.
“BERESKAN HALAMAN DEPAN!! KAMU TAHU SEBERAPA MALUNYA SAYA JIKA RUMAH INI BERANTAKAN PADAHAL SAYA PUNYA ANAK PEREMPUAN?!!”
      “I..Iya Yah..Nisa bereskan…”
      “DASAR ANAK PEMALAS!! HANYA PAHAM TIDUR, TIDUR DAN TIDUR!!”
      Tak ada jawaban untuk kalimat terakhir Ayah. Sakit dan sesak. Dua hal yang selalu ku rasakan ketika mendengar kedua orangtuaku bercekcok ria kemudian menjadikan ku sebagai imbasan. Marah dan sakit hati, dua kata yang melekat dihati akan perlakuan Ayah. Tetapi, Aku menyayanginya, amat menyayanginya…
      Ibu selalu mengajarkan kami untuk selalu berpikiran positif terhadap Ayah ataupun kepada orang yang menyakiti kita, selain itu maafkanlah ia apabila menyakiti hatimu baik itu berupa kata-kata atau perilakunya. Jika dirimu sakit, jatuh, senang atau bahagia ceritakan dan gantungkan semuanya pada Sang Khaliq maka kamu tak akan menyesal. Semua cobaan yang menimpa diri kita, cukup kita dan Allah SWT saja yang tahu. Ibuku memang luar biasa. Alhamdulillah, kami bisa menjalani hari-hari yang penuh warna ini dengan senyum yang senantiasa berganti tangisan ketika sampai di rumah…
***
      Terkadang aku bingung tuk bersikap bagaimana dan apa yang akan ku lakukan. Ketika anak seumuranku sangat senang pulang ke rumah ketika bel pulang berbunyi, aku malah sedih dan ketakutan. Apakah aku akan menangis lagi? Apakah kan ku saksikan Ibu menangis lagi? Apakah Ayah akan menghina atau mengusirku lagi? Berbagai prasangka buruk ku bermain dalam angan-angan yang tak menentu.
      “Astaghfirullah… Nisa tak boleh begini. Nisa pasti kuat. Nisa pasti bisa. Ayah seperti itu pasti karena saying sama NIsa. Bukankah Ayah sangat mirip dengan Nisa? Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan…InsyaAllah semua akan baik-baik saja.” Gumamku. Jantungku berdetak kencang.
      “Asslamu’alaikum. Nisa pulang…”
      “Wa’alaikum salam, ganti baju kamu cepat dan tolong Ibumu masak.” Sambut Ayah.
      “Iya, Ayah.”
      Sesaat kemudian aku sudah berganti pakaian dan membantu Ibu di belakang. Sejak tadi entah kenapa badan ini sangat berat dan pusing sekali kepala ini. Tapi, jika ku katakana kepada Ayah akan kondisiku Ayah akan bertambah marah. Ayah sangat temperamental. Cuma sebentar, ku yakin tak akan berat.
“Nisa kenapa Nak? Kalo pusing istirahat aja. Biar Ibu sama Nia yang masak.” Selidik Ibu seraya memeriksa suhu di keningku.
“Iya Bu. Nisa pusing. Maafkan Nisa ya Bu nggak bisa bantu.” Jawabku singkat.
“Istirahat aja NIsa, Ibu nggak apa-apa. Nisa bentar lagi kan ujian. Jadi harus jaga kondisi. Makanya, belajar jangan terlalu diforsir. Nia, besok kalo kamu masuk SMA contoh kakakmu, masuk kelas unggul. Ya nak? Nah sekarang….”
“Bu, tolong buatkan kopi. Jangan suruh Nisa yang bikin. Nggak enak.” Perintah ayah yang memotong ucapan Ibu pada Nia. Walau di wajahnya ku lihat letih. Tapi, itulah Ibuku, selalu tegar tanpa mengeluh melayani Ayah dengan setia dan selalu menyayangi Ayah. Aku ingin setegar Ibu dan aku tak akan mengecewakannya.
      “Kenapa kamu pergi? Hei!!” Tanya Ayah.
      “Nisa pusing Yah.” Jawabku
      “Alasan. Bilang aja kamu malas.”
      Diam. Tahan. Akhirnya aku sampai di kamar. Ku lepaskan semua emosiku dalam tangisku. Aku lupa kapan saat ku berhenti menangis saat itu, yang ku ingat kepala ku sakit dan dadaku sesak. Itulah yang membuatku terlelap hingga keesokan harinya ku sadri bahwa aku terkena gejala tipus.


Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar